Cerita Anak Fantasi: Cahaya Penjaga Langit (Eps 2. Bayangan dari Utara)
📥 Unduh Cerita (PDF)
PDF ini untuk pendampingan membaca anak oleh orang tua/guru.
Usia dan kelas: 10-12 Tahun (kelas 4-6 SD)
Bisa juga di usia: 13-15 Tahun (kelas 1-3 SMP)
Nikmati cerita pilihan yang tidak hanya seru, tetapi juga mengandung pesan baik untuk kehidupan sehari-hari 💙
Genre: Aksi, Islam Anak, Islam Remaja Awal
Orang tua, pendidik, atau pembaca dewasa dipersilakan mengirimkan masukan melalui email redaksi:
📧 rbgifplus@gmail.com
Atau bisa juga melalui formulir kami:
Klik disini
Demi keamanan anak, kolom komentar tidak tersedia.
PDF ini untuk pendampingan membaca anak oleh orang tua/guru.
Usia dan kelas: 10-12 Tahun (kelas 4-6 SD)
Bisa juga di usia: 13-15 Tahun (kelas 1-3 SMP)
Nikmati cerita pilihan yang tidak hanya seru, tetapi juga mengandung pesan baik untuk kehidupan sehari-hari 💙
Genre: Aksi, Islam Anak, Islam Remaja Awal
Angin malam bertiup dingin di atas Bukit Kabut. Rayyan masih berdiri memandangi gerbang cahaya yang perlahan menghilang di udara. Jantungnya berdegup cepat. Semua yang baru saja ia lihat terasa seperti mimpi.
Namun liontin bercahaya di tangannya membuktikan semuanya nyata.
“Kau sekarang adalah Penjaga Cahaya,” kata lelaki berjubah putih itu sebelum menghilang.
Rayyan menelan ludah.
“Aku... Penjaga Cahaya?”
Tiba-tiba liontin itu kembali bersinar. Cahaya biru lembut memancar keluar dan membentuk garis-garis tipis di udara.
Garis itu bergerak seperti peta.
“Apa ini?” gumam Rayyan.
Perlahan, garis cahaya menunjuk ke arah utara desa.
Lalu terdengar suara lirih dari liontin.
“Bahaya... datang...”
Rayyan membelalakkan mata.
---
Keesokan paginya, desa Nurania terasa berbeda. Langit mendung menutupi matahari. Angin berhembus lebih dingin dari biasanya.
Orang-orang tampak gelisah.
“Aneh sekali,” kata Pak Hasan di pasar. “Burung-burung dari hutan utara tidak terdengar hari ini.”
Rayyan memperhatikan semua itu sambil menyembunyikan liontin di balik bajunya.
Sahabatnya, Fajar, menghampiri sambil membawa roti hangat.
“Kau kelihatan pucat sejak kemarin,” katanya. “Jangan bilang kau benar-benar naik ke Bukit Kabut malam-malam?”
Rayyan tersedak.
“Eh... siapa bilang?”
Fajar menyipitkan mata.
“Jadi benar!”
Rayyan menghela nafas panjang. Ia tahu Fajar sulit dibohongi.
“Aku melihat sesuatu di sana,” bisiknya pelan.
“Mahluk seram?” tanya Fajar langsung.
“Bukan.”
“Jin?”
“Bukan juga!”
Rayyan menatap sekeliling memastikan tak ada orang mendengar.
“Aku melihat gerbang cahaya.”
Fajar terdiam.
Lalu tertawa keras.
“Hahaha! Kau pasti kurang tidur!”
Rayyan kesal.
“Aku serius!”
Belum sempat Fajar menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan dari ujung desa.
“Monster! Ada monster di ladang utara!”
Semua warga langsung panik.
Rayyan dan Fajar saling berpandangan.
Tanpa berpikir panjang mereka berlari menuju ladang.
---
Sesampainya di sana, warga sudah berkumpul dengan wajah ketakutan.
Di tengah ladang berdiri seekor makhluk hitam besar bermata merah menyala. Tubuhnya seperti serigala, tetapi jauh lebih besar dan dipenuhi asap gelap.
Makhluk itu menggeram keras.
GRRAAAHHH!
Anak-anak menangis ketakutan.
Beberapa warga mencoba mendekat dengan kayu, tetapi makhluk itu menghempaskan mereka hanya dengan satu kibasan.
Rayyan merasakan liontinnya panas.
Suara lirih kembali terdengar.
“Makhluk bayangan... utusan kegelapan...”
Makhluk itu tiba-tiba menoleh tepat ke arah Rayyan.
Mata merahnya menyala semakin terang.
“Ada Penjaga Cahaya...” suara seraknya terdengar mengerikan.
Rayyan mundur satu langkah.
“Apa dia bicara?!” teriak Fajar panik.
Makhluk itu melompat cepat ke arah warga.
“AWAS!” teriak Rayyan.
Tanpa sadar, Rayyan mengangkat liontinnya.
Cahaya biru besar meledak dari tangannya.
DUAAARR!
Semua orang terkejut.
Cahaya itu membentuk perisai raksasa yang melindungi warga dari serangan monster.
Makhluk bayangan terpental jauh.
Rayyan sendiri jatuh terduduk sambil terengah-engah.
“Aku... melakukan itu?”
Warga desa menatapnya dengan tak percaya.
Fajar sampai melongo.
“Kau... punya sihir?!”
“Ssst! Jangan keras-keras!”
Makhluk bayangan kembali berdiri. Kali ini tubuhnya mulai retak terkena cahaya.
“Cahaya suci...” geramnya marah.
Rayyan berdiri perlahan. Meski takut, ia teringat pesan lelaki berjubah putih.
“Gunakan kekuatanmu untuk melindungi.”
Rayyan menggenggam liontin erat.
Dalam hati ia membaca doa.
“Bismillah...”
Cahaya di tubuhnya kembali muncul, lebih terang dari sebelumnya.
Makhluk bayangan mengaum marah lalu menyerang sekali lagi.
Namun kali ini Rayyan tidak lari.
Ia mengarahkan tangannya ke depan.
“Pergilah dari desa kami!”
Cahaya biru melesat seperti kilat.
BRAKKK!
Makhluk itu menjerit keras sebelum berubah menjadi asap hitam dan lenyap tertiup angin.
Semua mendadak sunyi.
Warga desa terpaku.
Lalu terdengar suara takbir dari Pak Hasan.
“Allahu Akbar!”
Warga lain ikut berseru penuh syukur.
Rayyan tersenyum lega, meski tubuhnya sangat lelah.
Namun sebelum ia sempat tenang...
Liontinnya kembali bersinar merah.
Berbeda dari sebelumnya.
Kali ini terasa hangat sekaligus menakutkan.
Di langit utara, awan hitam perlahan membentuk simbol aneh seperti mata besar.
Dan sebuah suara berat menggema dari kejauhan.
“Penjaga Cahaya telah bangkit...”
Rayyan menatap langit dengan wajah tegang.
Petualangan sebenarnya baru saja dimulai.
💌 Masukan & Tanggapan
Cerita ini ditujukan untuk pembaca anak.Orang tua, pendidik, atau pembaca dewasa dipersilakan mengirimkan masukan melalui email redaksi:
📧 rbgifplus@gmail.com
Atau bisa juga melalui formulir kami:
Klik disini
Demi keamanan anak, kolom komentar tidak tersedia.
