Cerita Anak Fantasi: Cahaya Penjaga Langit (Eps 1. Gerbang di Bukit Kabut)
PDF ini untuk pendampingan membaca anak oleh orang tua/guru.
Usia dan kelas: 10-12 Tahun (kelas 4-6 SD)
Bisa juga di usia: 13-15 Tahun (kelas 1-3 SMP)
Nikmati cerita pilihan yang tidak hanya seru, tetapi juga mengandung pesan baik untuk kehidupan sehari-hari 💙
Genre: Aksi, Islam Anak, Islam Remaja Awal
Di sebuah desa kecil bernama Nurania, hiduplah seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang suka membantu warga desa dan rajin salat berjamaah di masjid.
Namun, Rayyan juga memiliki rasa penasaran yang besar.
Setiap sore setelah mengaji, ia sering naik ke Bukit Kabut yang berada di pinggir desa. Bukit itu terkenal angker. Banyak warga berkata bahwa tidak ada yang boleh mendekat saat matahari mulai tenggelam.
“Jangan ke sana sendirian, Rayyan,” pesan ibunya suatu sore.
Rayyan mengangguk. “Iya, Bu.”
Tetapi rasa penasaran di hatinya belum hilang.
Malam itu, angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Setelah salat Isya berjamaah, Rayyan berjalan pulang bersama sahabatnya, Hafiz.
“Aku dengar ada cahaya aneh di Bukit Kabut,” bisik Hafiz.
Rayyan langsung menoleh. “Benarkah?”
Hafiz mengangguk cepat. “Pamanku melihatnya tadi magrib.”
Rayyan terdiam.
Cahaya aneh?
Ia semakin penasaran.
Keesokan harinya, setelah membantu ayahnya di kebun dan mengaji sore, Rayyan diam-diam pergi menuju Bukit Kabut.
Langit mulai berwarna jingga.
Kabut tipis turun perlahan menutupi jalan setapak.
Rayyan berjalan hati-hati sambil membaca doa agar diberi perlindungan oleh Allah.
“Bismillahirrahmanirrahim...” gumamnya pelan.
Semakin naik, udara semakin dingin.
Tiba-tiba...
BRAK!
Sebuah suara keras terdengar dari balik pepohonan.
Rayyan terkejut.
Ia melihat bayangan hitam bergerak cepat.
“A-apa itu?” bisiknya.
Bayangan itu melompat dari satu pohon ke pohon lain. Matanya merah menyala.
Rayyan mundur perlahan.
Namun saat itu juga, cahaya biru muncul dari balik batu besar.
Cahaya itu membentuk lingkaran bercahaya seperti pintu.
Angin berputar sangat kencang.
Rayyan menutupi wajahnya.
Lalu...
Seseorang keluar dari lingkaran cahaya itu.
Seorang pria berjubah putih dengan pedang bercahaya di punggungnya.
Pria itu menatap Rayyan dengan serius.
“Kau bisa melihat gerbang ini?” tanyanya.
Rayyan gugup, tetapi mengangguk.
Pria itu tampak terkejut.
“Berarti tanda itu benar...” katanya pelan.
“T-tanda apa?”
Belum sempat pria itu menjawab, bayangan hitam tadi menyerang!
GRRAAAH!
Makhluk itu melompat dengan cakar panjang mengarah ke Rayyan.
“Awas!”
Pria berjubah putih langsung mencabut pedangnya.
CAAAANG!
Pedang bercahaya itu menahan serangan monster hitam.
Rayyan terpaku.
Pertarungan terjadi begitu cepat.
Makhluk hitam itu bergerak liar sambil mengeluarkan asap gelap.
Sementara pria berjubah putih membaca doa sebelum menyerang.
“Dengan izin Allah, mundurlah!”
Pedangnya memancarkan cahaya terang.
DUAAR!
Makhluk hitam itu terpental jauh.
Tetapi monster itu belum kalah.
Ia kembali berdiri sambil meraung keras.
Rayyan melihat sesuatu di dada monster itu.
Sebuah batu hitam berbentuk bulan sabit.
“Tuan! Batu itu bercahaya!” teriak Rayyan.
Pria berjubah putih langsung menoleh.
Matanya membesar.
“Itu Batu Zalim...”
Monster itu kembali menyerang.
Kali ini lebih cepat.
Rayyan tanpa sadar mengambil ranting kayu dan berdiri di depan pria berjubah putih.
“Hati-hati!”
Pria itu terkejut melihat keberanian Rayyan.
Monster hitam menerkam.
Namun tepat sebelum cakar monster mengenai Rayyan...
Cahaya keemasan muncul dari tangan anak itu.
WHOOSH!
Monster hitam terpental keras hingga menghantam batu.
Rayyan sendiri terkejut.
“Apa... apa itu tadi?”
Pria berjubah putih menatap Rayyan lekat-lekat.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Akhirnya kami menemukanmu.”
Rayyan bingung.
“Menemukan siapa?”
Pria itu menancapkan pedangnya ke tanah.
“Kau adalah salah satu Penjaga Cahaya.”
Mata Rayyan membelalak.
“Penjaga Cahaya?”
Kabut di sekitar bukit tiba-tiba bergerak liar.
Suara gemuruh terdengar dari balik gerbang biru.
Pria berjubah putih langsung berubah serius.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
Ia mengulurkan tangan pada Rayyan.
“Jika kau ingin melindungi desamu, ikutlah denganku.”
Rayyan menatap gerbang bercahaya itu.
Jantungnya berdetak cepat.
Di balik gerbang tersebut, terlihat langit ungu dan menara-menara bercahaya.
Dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rayyan menarik napas panjang.
Lalu ia mengingat pesan ayahnya.
“Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melakukan kebaikan meski hati merasa takut.”
Rayyan menggenggam tangan pria berjubah putih itu.
“Aku ikut.”
Gerbang bercahaya langsung bersinar semakin terang.
Dan malam itu...
Perjalanan besar Rayyan dimulai.
💌 Masukan & Tanggapan
Cerita ini ditujukan untuk pembaca anak.Orang tua, pendidik, atau pembaca dewasa dipersilakan mengirimkan masukan melalui email redaksi:
📧 rbgifplus@gmail.com
Atau bisa juga melalui formulir kami:
Klik disini
Demi keamanan anak, kolom komentar tidak tersedia.
